Menemukan Bakat yang Hilang

Anda sudah tahu, bahwa untuk bahagia dan produktif, Anda dapat menggunakan saran berikut. Pilih sebuah aktivitas, yang menempatkan Anda dalam kondisi:

# Merasa nikmat. Alias, Anda enjoy, menikmati kegiatan itu.

# Merasa terlibat. Semakin Anda terlibat, semakin mudah Anda berbahagia.

# Merasa bermanfaat. Makin spesifik kemanfaatan yang Anda rasa Anda bagikan ke sesama, semakin mudah Anda berbahagia. Semakin luas dampak dari kemanfaatan Anda, semakin panjaang perasaan bahagia Anda.

Ada pun, cara untuk menemukan aktivitas apa yang memasukkan Anda dalam kondisi di atas: bahagia nan produktif. Saya sarankan Anda untuk menggunakan instrumen menulis.

Mengapa menulis? Mungkin Anda bertanya, demikian.

Saat Anda melakukan sebuah aktivitas yang memenuhi tanda-tanda bakat. Saya percaya, Anda pernah alami aktivitas yang menyedot penuh perhatian (energi, konsentrasi, dan waktu). Saya juga percaya, Anda pernah alami kondisi di mana ingin melakukan sebuah aktivitas, lagi dan lagi. Dan, saya juga percaya, Anda pernah alami kondisi di mana, setelah melakukan sebuah aktivitas, diri Anda berkata, “Lelah tapi puas”.

Nah, terhadap tiga penanda bakat/kekuatan itulah. Terlibat, ingin ulangi lagi, dan perasaan lega yang berdaya. Saya sarankan, begitu Anda mengalaminya, Anda langsung menuliskannya. Bisa di atas kertas, bisa juga sarana lainnya, terserah Anda.

Begitu juga, ketika Anda berada di kondisi sebaliknya. Merasa terasing/terkucil (lawan kata dari terlibat), enggan mengulangi “itu” lagi, dan lega karena “itu” sudah selesai hingga malas mengingat-ingatnya kembali. Inilah tanda-tanda kelemahan Anda.

Kembali, menjawab pertanyaan Anda “Mengapa menulis untuk mengenali bakat/kekuatan pribadi?”

write - tulis by Insomnia PHT - flickr

Karena, tujuan utama yang kita inginkan dari menulis secara rutin ialah aspek kedalaman penguasaan. Dengan menuliskan penemuan satu per satu kekuatan pribadi, kita jadi sadar bagaimana bakat kita muncul dan bagaimana ia dapat kita ubah jadi amalan unggulan, melalui pelatihan intensif.

Dengan menulis, kita jadi mengerti betapa bakat yang ada bukanlah bakat yg matang, tapi bakat yang siap untuk dimatangkan. Di titik inilah, kita lebih menyadari arti kepakaran yang sesungguhnya. Kepakaran meledak, ketika kesiapan individual bertemu dengan kondisi lingkungan sosial yang tepat. Karena itulah kita sebut keberuntungan, sebagai perjumpaan harmonis antara kesiapan dengan kesempatan.

Menulis, bahkan dengan buku saku kecil sekalipun, merupakan kebiasaan “kecil” yang efektif dan praktis. Dengan menulis itu, kita dapat melatih pikiran, perasaan, dan pembiasaan prilaku kita, dalam 3 hal: memproduksi, memperbaiki (merevisi), dan berefleksi. Berbekal catatan itu, kita mampu mengukur dan mempertimbangkan, apa-apa yang perlu kita kejar demi penyempurnaan kepakaran.

Sampai di sini dulu, saya menuliskan kiat kecil untuk menemukan kembali, “bakat yang hilang”.

Semoga berguna.

3 thoughts on “Menemukan Bakat yang Hilang

  1. Pingback: Aktivitas Menemukan Bakat « Berbakat Jadi Hebat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s